Dari Rakyat Untuk Rakyat slide_1

PNPM Mandiri memang mensyaratkan adanya partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan by pnpmsumekar.blogspot.com.

Geliat Masyarakat yang terisolir slide_2

Karena pada tahun 2011 di dusun ini dibangun sebuah jembatan dengan panjang 18 meter yang melintas di atas hulu sungai “Angsono” by pnpmsumekar.blogspot.com.

Peningkatan Kapasitas dan Penguatan Kelambagaan slide_3

MODAL PRESTASI BADAN KERJASAMA ANTAR DESA PNPM – MPd KECAMATAN AMBUNTEN KABUPATEN SUMENEP by pnpmsumekar.blogspot.com.

Pemberian Surplus yang Tepat Sasaran slide_4

Sebanyak 23 anak didik dan masing-masing anak menerima Rp 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah) , yang secara simbolis di serahkan oleh Bapak Bupati Sumenep KH. A. Busyro Karim. M.Si by pnpmsumekar.blogspot.com.

Bibit Tanaman slide_5

Tapi jika mendengar kapal Tampomas 2 yang tenggelam seperti di tulis dalam lagu Iwan Fals tentu akan tidak asing terdengar di telinga kita by pnpmsumekar.blogspot.com.

Rabu, 07 Mei 2014

Perjalanan Waktu Selama 13 - 18 Jam di Tengah Lautan Lepas

Kapal Laut Dari Dermaga Kalianget Menuju Kepulauan Masalembu


Masalembu…… Masalembu……

Mendengar namanya saja mungkin akan asing bagi kita, apalagi tahu seperti apa keadaan pulau tersebut. Tapi jika mendengar kapal Tampomas 2 yang tenggelam seperti di tulis dalam lagu Iwan Fals tentu akan tidak asing terdengar di telinga kita. Pulau Masalembu atau yang juga dikenal dengan nama Pulau Masalembo merupakan pulau kecil yang terletak d utara pulau Madura. Kecamatan Masalembu ini masuk wilayah Kabupaten Sumenep.  

Pada mulanya, pulau ini tidak berpenghuni. Sekitar abad XVII, orang-orang Bugis sering melakukan perjalanan ke Surabaya untuk berdagang.  Barang dagangan mereka yang paling banyak adalah kelapa.  Pada suatu  ketika, sebuah kapal mereka tidak mendapat cukup angin dan akhirnya terdampar di perairan sebelah timur Pulau Masalembu. Karena pulau ini adalah pulau yang terdekat, mereka memutuskan untuk mendarat. Pulau ini tidak di huni oleh seorang manusiapun,  hanya terdapat sekumpulan sapi atau lembu yang merata hampir di semua pulau. Maka orang Bugis menamakan pulau ini dengan Nusa Lembu. Karena tanahnya yang cocok untuk kelapa, maka orang-orang bugis memutuskan untuk menanam kelapa bawaan mereka di pulau ini dan mengganti barang bawaan mereka dengan sapi untuk di bawa ke Surabaya. Setelah mendapat cukup angin, mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya untuk berdagang. Di Surabaya mereka menyebarkan informasi mengenai keberadaan pulau ini.

“GEDUNG SEKOLAH BARU BUAT ANAK PENERUS BANGSA”

Kondisi awal tempat belajar
Gedung sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Dewi Sartika yang ada di Desa Torbang Kecamatan Batuan yang sejak didirikan memang kurang layak disebut sebagai gedung sekolah yang biasanya digunakan sebagai tempat menuntut ilmu dikarenakan pada saat berdiri bertempat dibalai desa.

    Kemudian pada tahun 2000 sampai dengan 2009 sekolah tersebut berpindah tempat menempati gedung KUD (Koperasi Unit Desa) yang sudah tidak layak digunakan. Namun perpindahan sekolah yang lama yang bertempat di balai desa ke gedung KUD tersebut tidak banyak memberi perubahan yang berarti. Mengapa tidak, sekolah yang biasanya berdinding tembok dan beratap genteng lengkap dengan fasilitasnya yang membuat nyaman para muridnya melakukan kegiatan belajar mengajar namun tidak dengan sekolah TK Dewi Sartika ini yang sekolahnya dindingnya terbuat dari seng dan bahkan atapnya menggunakan seng sehingga membuat siswa dan guru pengajarpun merasakan kepanasan pada saat malakukan proses belajar mengajar. Bahkan pada saat musim penghujan pun proses belajar mengajar juga terganggu oleh suara bising air hujan yang jatuh pada atap yang terbuat dari seng.

BERKAH PASAR DESA SLOPENG KECAMATAN DASUK KABUPATEN SUMENEP

Desa Slopeng  merupakan salah satu desa lokasi PNPM Mandiri Perdesaan yang ada di Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 245.200 Ha dengan jumlah penduduk 230 KK atau 2846 jiwa diantaranya  920 jiwa adalah penduduk miskin.

Secara geografis Desa Slopeng merupakan daerah pesisir pantai yang jauh dari keramaian maupun pasar.  Masyarakat hanya bisa menikmati makanan hasil laut dari tangkapan ikan jika cuaca memungkinkan untuk melaut.  Sebenarnya masyarakat sangat menginginkan sekali adanya pasar temporer yang menjual aneka kebutuhan masyarakat perdesaan dengan harapan menu makanan lebih bervariasi.
Pasar Desa Slopeng Kecamatan Dasuk

Seiring berjalannya waktu pada tahun 2008 dengan adanya PNPM-Mandiri Perdesaan di Kecamatan Dasuk dan sesuai dengan mekanisme dan tahapan alur PNPM-MPd diusulkannya pembangunan Pasar Desa oleh kaum perempuan masyarakat Desa Slopeng melalui penggalian gagasan yang pada akhirnya dimusyawarahkan di Musyawarah Khusus Peremouan dan disyahkan melalui Musyawarah Desa Perencanaan.

Selasa, 29 April 2014

PNPM Mandiri Perdesaan Sumenep : Dari Rakyat Untuk Rakyat

Mulusnya Jalan Telford di Batuan 

PNPM Mandiri memang mensyaratkan adanya partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Konsep ini mengajarkan mereka untuk memilah pembangunan apa yang layak menjadi prioritas. Pelibatan langsung masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil yang sudah dicapai. Maka tidak heran jika Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri relatif disukai oleh masyarakat dibandingkan dengan model pembangunan top down. Dan karena berangkat dari bawah, manfaatnya pun lebih terasa oleh masyarakat. Seperti itulah yang terlihat dari hasil pembangunan yang dilakukan melalui program PNPM Mandiri Kabupaten Sumenep.

Anggaran PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Sumenep tahun 2012 sebesar Rp 37,8 miliar yang terdiri dari APBN sebesar Rp 34,7 dan APBD sebesar Rp 3,1 miliar dialokasikan untuk 287 Desa di 25 kecamatan. Pada tahun 2013, anggaran tersebut ditingkatkan menjadi Rp 55,2 miliar dari APBN sebesar Rp 52,2 miliar dan APBD mencapai Rp 3 miliar.

GELIAT MASYARAKAT YANG TER-ISOLIR

Salah satu masyarakat yang sangat bergimbara dengan adanya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) adalah masyarakat Dusun Sempong Timur Desa pasongsongan. Karena pada tahun 2011  di dusun ini dibangun sebuah jembatan dengan panjang 18 meter yang melintas di atas hulu sungai “Angsono”, jembatan ini merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan masyarakat Dusun Sempong Timur Desa Pasongsongan dengan masyarakat Dusun Sumber Pocok Desa Soddara.

Dimana sebelum adanya jembatan kehidupan masyarakat dusun ini sangat ter-isolir dengan masyarakat di luar masyarakat dusun Sempong Timur, jalan akses menuju lokasi dusun sangat sulit sekali karena jalan yang ada mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi yaitu kemiringan tanjakan jalan diatas 17 % (sangat curam) dijalur sebelah utara dusun, sehingga tidak ada kendaraan yang berani melewati jalan ini baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Satu-satunya akses jalan yang bisa masuk ke wilyah dusun Sempong Timur adalah melewati jalur sebelah selatan yaitu berupa jalan setapak dari dusun Sumber Pocok Desa Soddara dengan melintasi hulu sungai Angsono melalui jembatan bambu seadanya, itupun  hanya bisa dilewati pada saat musim kemarau saja dengan kendaraan roda dua, sementara akses jalur selatan ini pada saat musim penghujan tidak bisa dilewati disebabkan jalannya becek dan kondisi air sungai deras dan dalam.